Alat Berat Kembali Beroperasi, Pencemaran PETI di Muratara Ganggu Kehidupan Warga"
MURATARA — Aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di wilayah Kecamatan Rawas Ulu dan Ulu Rawas, Kabupaten Musi Rawas Utara, kembali berlangsung secara terang-terangan. Dampaknya kini dirasakan langsung oleh masyarakat melalui pencemaran Sungai Rawas yang semakin parah.
15/8/2026
Padahal saat ini wilayah Muratara sudah memasuki musim kemarau. Seharusnya debit air menyusut dan kondisi sungai relatif jernih. Namun di lapangan, air Sungai Rawas justru terpantau keruh pekat dan berlumpur.
"Airnya sudah seperti kubangan kerbau. Kami 95% masih pakai air sungai ini untuk MCK sehari-hari," ujar salah satu warga.
Di sepanjang bantaran dan badan sungai, terlihat alat berat ekskavator dan mesin dompeng beroperasi tanpa pengawasan ketat. Penggunaan bahan berbahaya seperti merkuri dalam aktivitas PETI juga dikhawatirkan menambah pencemaran.
Sorotan terhadap penegakan hukum"
Maraknya PETI memicu keresahan warga dan pemerhati lingkungan. Lambatnya penindakan tegas dari Aparat Penegak Hukum membuat publik mempertanyakan komitmen pemberantasan tambang ilegal.
Padahal sebelumnya, Satuan Brimob Polda Sumsel Batalyon B Pelopor bersama Polres Muratara sudah melakukan operasi dan memusnahkan sejumlah mesin dompeng di titik Pulau Kidak dan Sungai Pinang. Pemkab Muratara juga telah membentuk Satgas Pengamanan Tambang Ilegal dan DPRD Komisi III menggelar rapat khusus.
Namun warga menilai penertiban yang dilakukan baru bersifat formalitas dan tidak menyentuh akar persoalan.
Dampak nyata"
Pencemaran ini tidak hanya merusak ekosistem sungai. Warga juga mengeluh pertanian rusak karena lumpur, ikan mati, dan potensi penyakit akibat zat kimia. Selain itu, aktivitas PETI berpotensi memicu erosi tebing Sungai Rawas.
Dalam jurnal ilmiah Juni 2026 disebutkan, indeks pencemaran Sungai Rawas masuk kategori ringan hingga sedang dengan nilai 0,808 - 1,860. Karena itu diperlukan pemantauan berkala dan penegakan regulasi yang lebih ketat.
Tuntutan warga"
Masyarakat mendesak APH, Pemkab Muratara, dan pemerintah pusat turun tangan melakukan penertiban menyeluruh dan permanen. Warga juga meminta transparansi terkait dugaan adanya oknum yang membekingi operasional PETI.
"Kami tidak butuh janji. Kami butuh Sungai Rawas bersih kembali," tegas warga dalam aksi damai beberapa waktu lalu.
Pihak kepolisian sebelumnya menegaskan akan terus melakukan operasi berkala di wilayah rawan PETI. "Jika masyarakat masih nekat, tentu akan kami tindak sesuai aturan hukum yang berlaku," ujar Wakapolres Muratara.
sumber : Abdul Kadir
Redaksi : Suhaimi


0 Komentar