DPD TANI MERDEKA INDONESIA PIDIE JAYA SINERGI DENGAN BRMP ACEH: TEKAD BULAT MEMBANGKITKAN PERTANIAN PASCA BENCANA MENUJU SISTEM YANG LEBIH KUAT, BERDAULAT, DAN BERKELANJUTAN
PIDIE JAYA, 27 Agustus 2026 — Semangat kebangkitan membuncah dan tekad bulat membara di Kabupaten Pidie Jaya, Provinsi Aceh. Dewan Pengurus Daerah (DPD) Tani Merdeka Indonesia Kabupaten Pidie Jaya di bawah kepemimpinan Ketua DPD, Muslem Marzuki (Adoe), bersama seluruh jajaran pengurus, menggelar pertemuan strategis yang bersejarah bersama Badan Riset dan Pengabdian Masyarakat (BRMP) Aceh. Turut hadir dan mendampingi kegiatan ini Ketua Tim Kerja Penyuluh Pertanian Kabupaten Pidie Jaya, Bapak Khalil Alwazir, S.ST. Duduk bersama dalam satu meja, menyatukan pikiran, aspirasi, dan kepakaran, ketiga pihak ini menyatukan visi untuk merumuskan langkah konkret, terukur, dan berkelanjutan demi memulihkan sekaligus memajukan sektor pertanian yang sempat lumpuh dan terpuruk akibat bencana yang melanda wilayah ini.
Bencana yang melanda Pidie Jaya telah meninggalkan luka mendalam: lahan pertanian rusak, tanah mengalami kerusakan dan pencemaran akibat erosi, sarana prasarana pertanian hancur, dan ribuan petani kehilangan mata pencaharian. Namun di balik reruntuhan dan kerusakan itu, tidak ada kata menyerah. Tekad seluruh pengurus Tani Merdeka Indonesia Pidie Jaya adalah satu: Kami tidak akan membiarkan petani kami terpuruk sendirian. Kami hadir, kami berdiri bersama mereka, dan kami akan berjuang sampai pertanian Pidie Jaya bangkit kembali — bahkan lebih kuat dari sebelumnya.
Fokus utama pembahasan tertuju pada penyusunan program pemulihan cepat, tepat sasaran, dan berkelanjutan bagi para petani terdampak. Ketua DPD Tani Merdeka Indonesia Pidie Jaya, Muslem Marzuki (Adoe), dengan tegas menyoroti tiga hal mendesak yang menjadi suara langsung dari lapangan: pertama, pendataan lengkap, akurat, dan transparan atas seluruh lahan pertanian yang rusak akibat bencana, agar tidak ada satu pun petani yang terlewatkan; kedua, kepastian distribusi bibit unggul yang adaptif dengan kondisi tanah pascabencana, tepat waktu, dan sampai langsung ke tangan petani; ketiga, penyaluran pupuk subsidi yang benar-benar tepat sasaran, tidak ada yang bermain di tengah, dan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh mereka yang paling membutuhkan.
Kehadiran Ketua Tim Kerja Penyuluh Pertanian Kabupaten Pidie Jaya, Khalil Alwazir, S.ST., menjadi jembatan penting antara kebijakan teknis, dukungan riset, dan realitas di lapangan. Beliau menegaskan bahwa pendampingan penyuluh akan terus diperkuat agar setiap bantuan dan rekomendasi teknis dapat dipahami dan diterapkan langsung oleh petani, sehingga pemulihan berjalan efektif dan berkelanjutan.
Di sisi lain, BRMP Aceh hadir membawa basis riset, data ilmiah, dan pemetaan teknis untuk mendampingi langkah pemulihan. Dukungan teknis yang ditawarkan meliputi identifikasi dan perbaikan kualitas tanah yang tercemar maupun rusak akibat erosi pascabencana, hingga penerapan teknologi pertanian yang lebih tangguh, hemat, dan adaptif terhadap perubahan iklim serta kondisi lingkungan yang telah berubah. Sinergi ini bukan sekadar pertemuan biasa, melainkan pertemuan antara suara rakyat di lapangan, pendampingan teknis dari penyuluh, dan ilmu pengetahuan di ruang riset — tiga kekuatan yang jika disatukan akan melahirkan solusi yang tidak hanya bisa diucapkan, tetapi benar-benar bisa dijalankan.
Seluruh pengurus Tani Merdeka Indonesia Pidie Jaya menyatakan tekadnya dengan tegas: Pemulihan ini tidak boleh sekadar mengembalikan seperti semula. Kami ingin pertanian Pidie Jaya bangkit menjadi lebih kuat, lebih tangguh, dan lebih mandiri. Bencana telah mengajarkan kami bahwa sistem pertanian yang lemah akan mudah runtuh, maka kami akan membangun fondasi yang kokoh — mulai dari data yang akurat, bibit yang berkualitas, tanah yang sehat, hingga petani yang berdaya. Kami tidak akan lelah turun ke desa, turun ke sawah, mendengar keluh kesah petani, dan memperjuangkan setiap hak mereka. Selama ada petani yang belum bangkit, selama ada lahan yang belum ditanami, maka perjuangan kami belum selesai.
Sinergi antara Tani Merdeka Indonesia yang membawa aspirasi langsung dari masyarakat tani, BRMP Aceh yang membawa kepakaran ilmiah, serta didampingi oleh Tim Kerja Penyuluh Pertanian Kabupaten Pidie Jaya menjadi bukti nyata bahwa pemulihan pascabencana bukan beban satu pihak saja, melainkan tanggung jawab bersama. Dengan mengawinkan pengalaman lapangan, pendampingan teknis, dan keilmuan riset, diharapkan langkah yang diambil tidak hanya mengatasi kerusakan yang ada saat ini, tetapi juga mencegah kerugian serupa di masa depan — menciptakan sistem pertanian yang tahan banting terhadap bencana, berkelanjutan secara lingkungan, dan sejahtera secara ekonomi.
Melalui langkah kolaboratif ini, harapan baru kini terbentang luas bagi seluruh petani di Pidie Jaya. Muslem Marzuki (Adoe) menegaskan: “Kami berdiri di sini bukan untuk menjanjikan langit dan bumi, tetapi untuk memastikan bahwa setiap langkah yang diambil adalah langkah nyata. Bersama BRMP Aceh dan didampingi oleh Bapak Khalil Alwazir, S.ST. serta seluruh jajaran penyuluh pertanian, kami berkomitmen: data akan jelas, bantuan akan tepat, dan petani akan bangkit. Pidie Jaya akan kembali hijau, petani akan kembali sejahtera, dan pertanian kita akan kembali menjadi tulang punggung pangan rakyat.”
Bersama, petani kuat. Bersama, pangan terjamin. Bersama, Pidie Jaya bangkit kembali — lebih kuat, lebih berdaulat, dan lebih sejahtera.
Redaksi: Neng Kikie — Sekretaris Pusat TNC Grup

0 Komentar