H. SUKARDI: JEJAK PENGABDIAN PETANI YANG MEMIMPIN, MEMPERJUANGKAN HILIRISASI DAN KEDAULATAN PETANI SULAWESI TENGGARA
H. SUKARDI: JEJAK PENGABDIAN PETANI YANG MEMIMPIN, MEMPERJUANGKAN HILIRISASI DAN KEDAULATAN PETANI SULAWESI TENGGARA
SULAWESI TENGGARA, 1 Agustus 2026 – "Petani tidak boleh hanya menjadi penghasil bahan baku. Petani harus menjadi pelaku utama dalam rantai nilai pertanian agar kesejahteraannya benar-benar meningkat." Kalimat ini bukan sekadar ucapan, melainkan inti dari seluruh perjuangan H. Sukardi, sosok yang lahir di Soppeng pada 12 Januari 1965. Beliau adalah bukti nyata bahwa kepemimpinan sejati tidak selalu lahir dari ruang birokrasi, melainkan sering ditempa di hamparan sawah, dibentuk oleh keringat kerja keras, dan diuji oleh pengalaman panjang mengabdi kepada sesama. Kini, dari ladang pengalaman itulah beliau dipercaya memimpin Dewan Pimpinan Wilayah Tani Merdeka Indonesia (TMI) Provinsi Sulawesi Tenggara, membawa gagasan besar untuk mengubah nasib kaum tani melalui hilirisasi dan kemandirian berkelanjutan.
Sejak masa muda hingga hari ini, H. Sukardi memilih pertanian bukan sekadar mata pencaharian, melainkan panggilan jiwa dan jalan pengabdian. Di bawah terik matahari dan rintik hujan, beliau belajar bahwa keberhasilan dibangun di atas ketekunan, disiplin, kesabaran, dan kejujuran. Nilai-nilai itulah yang kemudian menjadi fondasi kokoh bagi karakter kepemimpinannya. Di samping perjuangan di lapangan, beliau didampingi setia oleh istri tercinta, Hj. Gusnawati, dan dikaruniai lima orang anak—tiga perempuan dan dua laki-laki—yang menjadi sumber kekuatan dan semangat pengabdiannya.
Prinsip hidup yang dipegang teguh sepanjang hayatnya adalah: "Satu tetap satu, haram jadi dua." Bagi beliau, ini adalah cerminan integritas, konsistensi, dan kesetiaan terhadap amanah. Seorang pemimpin, menurut pandangannya, hanya akan dihormati apabila mampu menjaga kepercayaan yang dititipkan masyarakat. Kepercayaan yang diberikan kepadanya untuk memimpin DPW Tani Merdeka Indonesia Sulawesi Tenggara dipandang sebagai amanah besar: menjadikan organisasi sebagai wadah pemberdayaan, memperkuat kelembagaan petani, memperluas akses teknologi, permodalan, dan pasar, serta menjadi mitra strategis pemerintah dalam mewujudkan ketahanan dan kedaulatan pangan nasional.
Salah satu gagasan besar yang terus diperjuangkan H. Sukardi adalah hilirisasi pertanian. Beliau menegaskan perlunya pergeseran paradigma: dari sekadar mengejar volume produksi, beralih ke peningkatan nilai tambah. Petani tidak boleh lagi berada di ujung rantai ekonomi yang hanya menerima keuntungan kecil. Setiap komoditas—mulai dari padi, kakao, mete, kelapa, hortikultura hingga hasil peternakan yang melimpah di Sulawesi Tenggara—memiliki potensi jauh lebih besar apabila diolah, dikemas dengan standar mutu, dan dipasarkan secara modern hingga ke tingkat nasional maupun internasional.
"Keberhasilan ini tidak bisa dilakukan sendirian," tegas beliau. Diperlukan kolaborasi erat antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, lembaga keuangan, dan organisasi petani untuk membangun ekosistem pertanian modern yang berkelanjutan. Di sini peran Tani Merdeka Indonesia menjadi jembatan penghubung yang vital. Di samping itu, beliau juga menaruh perhatian besar pada regenerasi petani: pertanian harus menjadi bidang usaha yang modern, layak, dan menjanjikan, agar generasi muda mau turun ke ladang dan melanjutkan tongkat estafet.
Di balik kesibukan mengabdi, H. Sukardi menjaga semangat hidupnya dengan olahraga dan pandangan yang optimis. Ungkapan yang sering beliau sampaikan menjadi pesan mendalam bagi banyak orang: "Muda foya-foya, tua kaya raya, mati masuk surga." Sebuah ajakan menjalani setiap fase kehidupan dengan kerja keras halal, kesejahteraan yang diraih bersama, dan pengabdian yang abadi.
Perjalanan hidup H. Sukardi mengajarkan kita: kepemimpinan lahir dari pengalaman, kepercayaan dijaga dengan integritas, dan kemajuan pertanian diraih dengan kebersamaan. Dari hamparan sawah hingga memimpin organisasi tingkat provinsi, beliau terus melangkah membawa harapan: agar petani tidak lagi sekadar penyuplai bahan baku, melainkan pelaku utama yang sejahtera, mandiri, dan menjadi fondasi kokoh kemajuan bangsa.
Penulis: Mungki Retnosari, S.E. (Neng Kikie)
Sekretaris DPP TNC Grup

0 Komentar