Pemprov Sumsel Gelar Salat Istisqa di Griya Agung, Ikhtiar Hadapi Kemarau dan Karhutla

 *Pemprov Sumsel Gelar Salat Istisqa di Griya Agung, Ikhtiar Hadapi Kemarau dan Karhutla*



PALEMBANG — Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan mengajak masyarakat melaksanakan Salat Istisqa di Griya Agung Palembang, Selasa (25/8/2026). Salat sunnah untuk memohon turunnya hujan tersebut digelar di tengah puncak musim kemarau dan meningkatnya ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Sumsel.


Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru mengundang masyarakat Palembang dan sekitarnya untuk mengikuti Salat Istisqa secara berjamaah. Kegiatan dijadwalkan berlangsung pukul 07.30 WIB di Griya Agung Palembang.


Ajakan tersebut menjadi bagian dari ikhtiar pemerintah dan masyarakat menghadapi kondisi kemarau yang semakin panjang. Berdasarkan peringatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), periode Agustus hingga September 2026 merupakan puncak musim kemarau di Sumatera Selatan, sehingga risiko karhutla perlu diwaspadai.


Hotspot Capai 12.956 Titik


Situasi karhutla di Sumsel juga menjadi perhatian serius. Dalam rapat penanganan karhutla, Senin (24/8/2026), pemerintah melaporkan terdapat 12.956 titik panas (hotspot) yang terpantau di wilayah Sumatera Selatan.


Konsentrasi hotspot disebut berada terutama di Ogan Komering Ilir (OKI) dan Musi Banyuasin (Muba). Dampak kebakaran bahkan mulai dirasakan di Kota Palembang dengan menurunnya kualitas udara akibat kabut asap.


Dalam kondisi tersebut, Salat Istisqa diharapkan menjadi momentum bagi masyarakat untuk bersama-sama memanjatkan doa sekaligus memperkuat kepedulian terhadap lingkungan.


Herman Deru menegaskan, Salat Istisqa bukan berarti pemerintah mengesampingkan langkah penanganan secara teknis. Menurutnya, upaya lahiriah untuk mengatasi karhutla tetap harus dilakukan secara maksimal.


“Ini bukan berarti kita hanya mengandalkan doa. Ikhtiar lahiriah tetap kita maksimalkan,” ujar Herman Deru.


Doa dan Penanganan Teknis Berjalan Bersamaan


Pemprov Sumsel sebelumnya telah mendorong pelaksanaan Salat Istisqa di berbagai kabupaten dan kota. Bahkan, unsur Satgas Doa dimasukkan dalam struktur penanganan karhutla sebagai bagian dari pendekatan spiritual menghadapi kondisi kemarau dan bencana asap.


Sementara itu, penanganan teknis di lapangan terus diperkuat. Pemerintah pusat melalui Presiden Prabowo Subianto telah menyetujui tambahan dukungan untuk Sumatera Selatan, antara lain berupa penambahan helikopter untuk operasi water bombing, pengerahan ekskavator guna membuat kanal penyekat di kawasan lahan gambut, serta pengiriman 500 unit mesin pompa air sesuai usulan Gubernur Herman Deru.


Tim gabungan juga masih melakukan pemadaman melalui jalur darat dan udara, membangun sekat kanal, memastikan ketersediaan sumber air, mencegah munculnya titik api baru, serta melakukan penegakan hukum terhadap pihak yang terbukti melakukan pembakaran lahan.


Masyarakat Diminta Tidak Membakar Lahan


Di tengah ancaman karhutla, pemerintah juga mengingatkan masyarakat agar tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar. Masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan, menjaga lingkungan, dan segera melaporkan apabila menemukan titik api.


Salat Istisqa di Griya Agung dengan demikian tidak hanya menjadi agenda keagamaan, tetapi juga momentum untuk memperkuat kebersamaan menghadapi dampak kemarau dan karhutla.



Pemerintah berharap turunnya hujan dapat membantu mengatasi kekeringan, menambah ketersediaan air bersih, sekaligus membantu proses pemadaman karhutla yang masih berlangsung di sejumlah wilayah.


Di tengah kemarau dan ancaman kabut asap, ikhtiar spiritual dan langkah teknis berjalan beriringan. Masyarakat Sumatera Selatan pun diajak memperbanyak doa dan istighfar, sekaligus mengambil peran nyata dengan menjaga lingkungan dan tidak melakukan pembakaran lahan.


RED/SHM

0 Komentar