DARI WARISAN LELUHUR MENUJU KOPI MODERN SUMBA BARAT DAYA


Sumba Barat Daya, 19/09/2026

Ada kekayaan yang diwariskan oleh leluhur bukan sekadar untuk dikenang, melainkan untuk dirawat, dikembangkan, dan diwariskan kembali kepada generasi berikutnya dalam bentuk yang lebih bernilai.


Kopi Sumba Barat Daya adalah salah satu kekayaan tersebut.


Di tengah potensi alam yang dimiliki Bumi Marapu, tanaman kopi telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sejak dahulu. Namun, potensi tersebut tidak seharusnya berhenti sebagai cerita tentang tanaman yang tumbuh secara alamiah. Di tangan petani, kopi perlu dikembangkan menjadi komoditas yang mampu memberikan nilai tambah dan memperkuat ekonomi masyarakat.


Pandangan inilah yang terus didorong oleh DPD Tani Merdeka Indonesia (TMI) Sumba Barat Daya. Bagi TMI, pengembangan kopi tidak cukup hanya berbicara tentang luas tanaman dan hasil panen. Lebih jauh dari itu, diperlukan ilmu pengetahuan, teknologi, pendampingan, peningkatan mutu, serta tata kelola budidaya yang mampu menjawab kebutuhan pertanian masa kini.



Momentum penting dalam upaya tersebut terjadi ketika Tim Kementerian Pertanian RI, termasuk Tenaga Ahli Menteri, Kepala Pusat PVTPP, dan Direktur Perbenihan Perkebunan, berkunjung ke Desa Lagalete, Kecamatan Wewewa Barat, pada Juni 2026.

Kunjungan tersebut menjadi kesempatan untuk melihat secara langsung kondisi dan potensi tanaman kopi di Sumba Barat Daya, sekaligus memahami berbagai tantangan yang masih dihadapi petani di lapangan.


Dari proses tersebut terlihat bahwa masih terdapat berbagai aspek yang perlu dibenahi. Budidaya kopi di tingkat petani masih banyak dilakukan secara konvensional. Karena itu, sebelum melangkah lebih jauh pada pengembangan, peningkatan mutu, maupun proses pendaftaran dan penguatan varietas, fondasi budidayanya perlu terlebih dahulu diperkuat.

Prinsipnya sederhana: jangan hanya membanggakan potensi, tetapi bangun potensi itu dengan pengetahuan dan kerja nyata.


Modernisasi pertanian pun bukan berarti meninggalkan warisan leluhur. Sebaliknya, modernisasi menjadi salah satu cara untuk menjaga warisan tersebut agar tetap hidup, berkembang, memiliki mutu, dan mampu memberikan nilai ekonomi yang lebih besar bagi generasi mendatang.


Atas dasar pemikiran tersebut, DPD TMI Sumba Barat Daya terus membangun koordinasi dan sinergi dengan Pemerintah Daerah, Kementerian Pertanian RI, tenaga ahli, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya. Langkah ini diarahkan agar potensi kopi Sumba Barat Daya tidak hanya menjadi kekayaan alam, tetapi dapat berkembang menjadi kekuatan ekonomi petani.

Upaya tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan kehadiran Tim Ahli Kementerian Pertanian RI dalam kegiatan Bimbingan Teknis (BIMTEK) Petani Kopi Sumba Barat Daya, yang dilaksanakan pada 21 September 2026 di Desa Lagalete, Kecamatan Wewewa Barat.



Bagi DPD TMI Sumba Barat Daya, BIMTEK tersebut bukan sekadar kegiatan seremonial. Kegiatan ini merupakan bagian dari langkah awal untuk mendorong perubahan pola pikir dan praktik budidaya petani menuju pertanian kopi yang lebih modern.

Ketua DPD TMI Sumba Barat Daya, Kristina Bili, mengatakan bahwa peningkatan kapasitas petani merupakan bagian penting dalam membangun masa depan pertanian kopi di daerah tersebut.


“BIMTEK ini bukan sekadar sebuah kegiatan seremonial. Ini adalah langkah awal untuk membangun perubahan. Petani harus memiliki ilmu, kebun harus dikelola dengan teknologi, hasil panen harus memiliki mutu, dan komoditas rakyat harus memiliki nilai ekonomi,” ujar Kristina.

Menurut Kristina, pembangunan pertanian yang sesungguhnya tidak hanya dapat dilihat dari seberapa banyak tanaman yang tumbuh, tetapi juga dari seberapa besar pengetahuan petani berkembang dan seberapa jauh peningkatan kesejahteraan mereka dapat diwujudkan.


Ia menambahkan, kopi yang selama ini menjadi bagian dari warisan alam dan budaya masyarakat Sumba Barat Daya perlu mendapatkan sentuhan pengetahuan dan teknologi agar mampu menjawab tantangan pertanian modern.

“Dari kopi alam warisan leluhur, kita mulai melangkah menuju kopi Sumba Barat Daya yang modern, bermutu, bernilai, dan mampu menjadi kebanggaan Bumi Marapu,” kata Kristina, yang juga dikenal sebagai salah satu pemerhati ekonomi petani di Sumba Barat Daya.


Dalam proses tersebut, TMI menegaskan bahwa perannya bukan untuk mengambil alih tugas pemerintah. TMI berupaya menjadi jembatan koordinasi, membuka ruang kolaborasi, serta ikut mengawal aspirasi petani agar dapat tersampaikan kepada para pemangku kebijakan.

Sebab, pengembangan kopi membutuhkan kerja bersama. Pemerintah memiliki kewenangan dan kebijakan, tenaga ahli membawa pengetahuan dan teknologi, sementara petani menjadi pelaku utama yang menghidupkan proses tersebut di tingkat lapangan.


Dari sinergi itulah diharapkan lahir perubahan yang tidak berhenti pada satu kegiatan, tetapi terus berlanjut dari kebun ke kebun, dari petani ke petani, hingga menjadi gerakan bersama untuk membangun pertanian Sumba Barat Daya.

Karena pada akhirnya

Tanah yang subur adalah anugerah.

Pengetahuan adalah kekuatan.

Tetapi kerja bersama adalah jalan menuju kesejahteraan.

Dari Bumi Marapu, untuk masa depan petani Sumba Barat Daya.


Redaksi : kristin.

0 Komentar