MUSYAWARAH TARBIYYAH WA TA’LIM KHILAFATUL MUSLIMIN DIGELAR DI BEKASI, EVALUASI PROGRAM DAN SUSUN LANGKAH KE DEPAN

 



BEKASI – Sebanyak 42 peserta dari berbagai wilayah berkumpul di Bekasi untuk mengikuti Musyawarah Tarbiyyah wa Ta’lim Khilafatul Muslimin yang digelar oleh Wizaroh Tarbiyyah wa Ta’lim Pusat, Kamis (22/10/2026).


Kegiatan berlangsung di Masjid Damai, Pondok Pesantren Ukhuwwah Islamiyyah, Pekayon Jaya, Bekasi Selatan, mulai pukul 09.00 WIB hingga menjelang salat Ashar.


Peserta berasal dari berbagai daerah, di antaranya Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan, hingga Kolaka, Sulawesi Tenggara. Mereka terdiri dari Amir Wilayah, Amir Ummul Quro, serta Qismu Tarbiyyah wa Ta’lim dari berbagai daerah.



Sebagai tuan rumah, Amir Wilayah Jabodetabek Banten, Ust. Suhendar, memberikan sambutan pada awal kegiatan. Ia menyampaikan pentingnya musyawarah sebagai sarana untuk memperkuat koordinasi dan menyatukan langkah dalam pelaksanaan program Tarbiyyah wa Ta’lim di berbagai wilayah.


Setelah sambutan, kegiatan dilanjutkan dengan pembacaan hasil-hasil keputusan Musyawarah Tarbiyyah wa Ta’lim se-Indonesia yang pernah dilaksanakan pada 29 Dzulhijjah 1429 H di Bandar Lampung. Pembacaan tersebut disampaikan oleh Ust. Musthofa Zailani.


Pembacaan keputusan musyawarah sebelumnya menjadi bagian awal sebelum peserta memasuki agenda pembahasan. Hasil-hasil keputusan tersebut kembali dibacakan sebagai bahan untuk mengingat dan melihat kembali arah yang telah dibahas dalam musyawarah terdahulu.



Setelah itu, peserta memasuki agenda evaluasi pelaksanaan program Tarbiyyah wa Ta’lim di masing-masing wilayah. Berbagai pengalaman, perkembangan, serta kendala dalam pelaksanaan program disampaikan untuk menjadi bahan pembahasan bersama.


Rois Wizaroh Tarbiyyah wa Ta’lim Pusat, Ust. Supriyono Hadi, menyampaikan bahwa evaluasi diperlukan untuk melihat kembali program yang telah berjalan sekaligus menyusun langkah perbaikan.



“Pertemuan ini menjadi kesempatan bagi kita untuk melihat kembali program yang sudah berjalan, mengevaluasi kekurangannya, dan menyusun langkah ke depan agar program Tarbiyyah wa Ta’lim bisa berjalan lebih baik di masing-masing wilayah,” ujarnya.



Dalam pembahasan, pengalaman dari masing-masing wilayah menjadi salah satu bahan penting. Kondisi setiap daerah yang berbeda membuat pengalaman dari satu wilayah dapat menjadi masukan bagi wilayah lainnya.


Qismu Tarbiyyah wa Ta’lim Wilayah Borneo, Iqbal, mengatakan hasil pembahasan diharapkan tidak berhenti pada forum musyawarah, tetapi dapat diterapkan di wilayah masing-masing.


“Harapannya, hasil pembahasan di sini tidak berhenti sebagai pembicaraan saja, tetapi bisa dibawa dan diterapkan di wilayah masing-masing. Harus satu derap, satu suara. Karena setiap wilayah memiliki kondisi yang berbeda, pengalaman dari masing-masing daerah juga menjadi bahan evaluasi bersama,” katanya.


Salah satu peserta yang hadir dari Kolaka, Sulawesi Tenggara, Ust. Sukriyadi, menempuh perjalanan cukup jauh untuk mengikuti kegiatan tersebut. Ia mengaku harus melakukan perjalanan menggunakan kapal laut sebanyak dua kali.



“Kami cukup jauh datang ke Bekasi, dua kali naik kapal laut. Tetapi memang pertemuan seperti ini penting karena bisa bertemu dengan saudara-saudara dari wilayah lain. Kami bisa mengetahui bagaimana program dijalankan di daerah lain dan mengambil pengalaman yang bisa diterapkan di wilayah kami,” ujarnya.


Musyawarah kemudian dilanjutkan dengan pembahasan penyempurnaan program Tarbiyyah wa Ta’lim serta penyusunan arah pelaksanaan program ke depan. Hasil pembahasan diharapkan menjadi bahan bagi pengurus di masing-masing wilayah dalam menjalankan program sesuai kondisi daerahnya. (Abu Nusaibah)

0 Komentar